Kegiatan guru di dalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar
dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan
siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun
rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan
pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan
mengajar. Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan
suasana kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan
efisien. Memberi ganjaran dengan segera, mengembangkan hubungan yang baik
antara guru dan siswa, mengembangkan aturan permainan dalam kegiatan kelompok
adalah contoh-contoh kegiatan mengelola kelas.
Menurut M. Entang dan T. Raka Joni (1983:12), masalah
pengelolaan kelas dibagi menjadi dua kategori masalah, yaitu masalah individual
dan masalah kelompok. Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru akan tepat
jika guru tersebut dapat mengidentifikasi masalah dengan tepat dan dapat
menentukan strategi penanggulangan yang tepat pula. Untuk melakukan pengelolaan
kelas yang efektif, diperlikan kehati-hatian dalam mengidentifikasi suatu
masalah, apakah maslah itu termasuk individual atau kelompok. Kekurang hati-hatian
guru dalam memahami suatu masalah dapat menyebabkan kekeliruan dalam menentukan
jenis masalah yang muncul
1. Masalah Individual
Maslah individual adalah masalah
pengelolaan kelas yang sumber penyebabnya adalah individual anak. Masalah
individu akan muncul karena dalam setiap individu ada kebutuhan untuk diterima
dalam kelompok dan ingin mencapai harga diri. Ketika kebutuhan ini tidak dapat
terpenuhi melalui cara-cara yang wajar maka individu tersebut akan berusaha
mendapatkannya dengan cara-cara yang tidak baik. Rodolf Dreikurs dan Cassel
yang dikutip oleh M. Entang dan T. Raka Joni mengelompokannya menjadi empat,
yaitu:
·
Tingkah laku yang ingin
mendapatkan perhatian orang lain ( attention getting behaviors).
·
Tingkah laku yang ingin
menunjukkan kekuatan (power seeking behaviors).
·
Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang
lain (revenge seeking behaviors).
·
Peragaan ketidakmampuan
(passive behaviors).
Sebagai penduga Dreikurs dan Paerl
Cassel menyarankan penyikapan sebagai berikut:
• Apabila seorang guru merasa
terganggu oleh perbuatan siswa, maka kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap
meminta perhatian.
• Apabila guru merasa dikalahkan
atau terancam oleh perbuatan siswa, maka kemungkinan siswa tersebut ada pada
tahap ingin menunjukkan kekuatan.
• Apabila guru merasa tersinggung
oleh perbuatan siswa, kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap ingin balas
dendam.
• Apabila guru merasa benar-benar
tidak mampu berbuat apa-apa lagi dalam menghadapi ulah siswa, maka besar
kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap ingin menunjukan ketidakmampuan.
Dari keempat cara atau tindakan yang
dilakukan oleh individu tersebut mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah
laku yang sering nampak pada anak usia sekolah (Maman Rahman:1998), yaitu:
• Pola akatif konstruktif: pola
tingkah laku yang ekstrim, ambisius untuk menjadi super star di kelasnya dan
mempunyai daya usaha untuk membantu guru dengan penuh vitalitas dan sepenuh
hati.
• Pola aktif destruktif: pola
tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk membuat banyolan, suka marah, kasar,
dan memberontak.
• Pola pasif konstruktif: pola yang
menunjuk kepada satu bentuk tingkah laku yang lamban dengan maksud supaya
dibantu dan mengharapkan perhatian.
• Pola pasif destruktif: pola
tingkah laku yang menunjuk kemalasan dan keras kepala.
2. Masalah Kelompok
Masalah kelompok adalah masalah
pengelolaan kelas yang sumber penyebabnya adalah kelompok. Menurut Lois V.
Jhonson dan Mary A. Bany mengemukakan tujuh kategori masalah elompok dalam
pengelolaan kelas, yaitu:
· Kelas kurang kohesif.
· Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya.
· Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakati
sebelumnya.
· Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.
· Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang
tengah digarap.
· Semangat kerja rendah.
· Kelas kurang menyesuaikan diri dengan keadaan baru.
Kelas yang kurang kohesif ditandai
dengan lemahnya hu bungan interpersonal di dalam kelas. Hal ini dapat
disebabkan karena perbedaan jenis kelamin, suku dan tingkat sosial ekonomi.
Sering terlihat adanya permusuhan antara sekelompok anak perempuan dan
sekelompok anak laki-laki. Lemahnya hubungan ini terlihat pula karena adanya
perbedaan suku, kota asal, kampung, atau tempat tinggal. Di dalam kelas sekelompok
anak ini bisa menampakkan hubungan yang sangat jarak dan tidak akrab serta
terkadang menimbulkan pertentangan di dalam kelas.
Kelas mereaksi negatif terhadap salah
seorang siswa juga dapat menimbulkan masalah dalam kelas, misalnya dengan
menertawakan, menghina secara bersama-sama yang menyebabkan kelas menjadi ribut
dan tidak kondisif untuk belajar. Biasanya anak yang ditertawakan adalah anak
yang pemalu, cengeng, suaranya sumbang kalau bernyanyi, dan berpenampilan
jelek.
Dari dua macam masalah pengelolaan
kelas tersebut, maka memerlukan penangan yang berbeda. Diagnosis yang keliru
akan menimbulkan tindakan korektif yang keliru pula.
Usaha Pencegahan
Masalah Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas merupakan kegiatan guru dalam rangka
penyediaan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung
efektif. Tindakan tersebut dapat berupa tindakan pencegahan (preventif) dan
tindakan korektif. Tindakan korektif terbagi menjadi dua, yaitu dimensi
tindakan dan tindakan penyembuhan (kuratif).
Usaha yang bersifat
pencegahan (preventif)
Adalah tindakan yang dilakukan sebelum munculnya tingkah
laku yang menyimpang yang menggaggu kondisi optimal berlangsungnya
pembelajaran. Keberhasilan dalam tindakan pencegahan merupakan salah satu
indikator keberhasilan manajemen kelas. Konsekuansinya guru harus mampu memanaj
kelas secara efektif dan efisien dalam jangak pendek amupun jangka panjang.
Menurut Maman Rahman:1998, langkah
pencegahannya adalh sebagai berikut:
• Peningkatan kesadaran diri sebagai guru
Hal ini merupakan langkah yang strategis dan mendasar.
Karena dengan dimilikinya kesadaran ini akan meningkatkan rasa tanggung jawab
dan rasa memiliki yang merupakan modal besar bagi guru dalam melaksanakan
tugasnya. Implikasinya akan tampak pada sikap guru yang demokratis, stabil,
harmonis dan berwibawa. Penampakan hali seperti ini akan menimbulkan reaksi
positif dari peserta didik.
• Peningkatan kesadaran diri peserta didik
Interaksi positif akan terjalin jika kesadarn guru dan
kesadaran peserta didik sudah tercipta. Kurangnya kesadaran peserta didik akan
memicu tindakan yang mengganggu kondisi optimal kegiatan pembelajaran.
Untuk meningkatkan kesadaran peserta didik, hal yang
harus dilakukan adalah memberitahukan akan hak dan kewajibannya sebagai peserta
didik, memperhatikan kebutuhan, keinginan dan dorongan para peserta didik,
menciptakan suasan saling pengertian, saling menghormati dan rasa keterbukaan
antara guru dan peserta didik.
• Sikap polos dan tulus dari guru
Seorang guru hendaknya bersikap polos dan tulus terhadap
peserta didiknya. Hal ini agar dalam setiap tindakannya guru tidak terkesan
berpura-pura. Sikap polos dan tulus ini sangat membantu dalam mengelola kelas.
Guru dan kepribadiannya akan sangat mempengaruhi lingkungan belajar, karena
tingkah laku, cara menyikapi dan tindakan guru merupakan stimulus yang akan
direspon oleh peserta didik.
• Mengenal dan menemukan alternatif pengelolaan
Langkah-langkah yang harus ditempuh antara lain,
melakukan identifikasi terhadap berbagai penyimpangan tingkah laku peserta
didik baik secara individual atau kelompok, mengenal berbagai pendekatan dalam
manajemen kelas, dan mempelajari pengalaman guru-guru lainnya yang gagal atau
berhasil sehingga dirinya memiliki alternatif yang bervariasi dalam menangani
berabagi manajemen kelas.
• Menciptakan kontrak sosial
Penciptaan kontrak sosial erat hubungannya dengan
“standar tingkah laku” yang diharapkan dapat memberi gambaran mengenai
fasilitas beserta keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan peserta didik. Hal
ini mengingat norma atau nilai yang ada datang nya dari atas dan bersifat satu
pihak dan memungkinkan timbulnya kecendrungan untuk dilanggar. Untuk itu,
diperlukannya adanya pengelolaan kelas yang perumusannya berupa tata tertib
yang dibicarakan bersama peserta didik dan kemudian disetujui oleh guru dan
peserta didik itu sendiri. Jika siswa tidak ikut serta dilibatkan dalam
pembuatan kontra sosial atau tata tertib tersebut dikhawatirkan siswa akan
bertindak sekehendak siswa karena meras tidak ikut membuat peratuaran yang ada.
Usaha Yang Bersifat
Penyembuhan (Kuratif)
1. Mengidentifikasi masalah
Pada langkah ini guru mengenal atau
mengetahui masalh-masalah pengelolaan kelas yang timbul dalam kelas. Bedasar
masalah tersebut guru dapat mengidentifikasi jenis penyimpangan sekaligus
mengetahui latar belakang yang membuat peserta didik melakukan penyimpangan
tersebut.
2. Menganalisis masalah
Disini guru menganalisi penyimpangan
peserta didik dan menyimpulkan latar belakang dan sumber-sumber dari
penyimpangan itu. Selanjutnya menentukan alternatif-alternatif
penanggulangannya.
3. Menilai alternatif-alternatif pemecahan
Pada langkah ini guru menilai dan
memilih alternatif pemecahan masalah yang dianggap tepat dalam menanggulangi
masalah.
4. Mendapatkan balikan
Tahap yang terakhir guru bertindak
sebagai monitoring, dengan tujuan untuk menilai keampuha pelaksanaan dari
alternatif pemecahan yang dipilih untuk mencapai sasaran yang sesuai dengan
yang direncanakan. Hal ini dapat ditempuh dengan cara melakukan sharing dengan
peserta didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar