Pages - Menu

Jumat, 27 Juni 2014

MASALAH-MASALAH MANAJEMEN KELAS



Kegiatan guru di dalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar. Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Memberi ganjaran dengan segera, mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan siswa, mengembangkan aturan permainan dalam kegiatan kelompok adalah contoh-contoh kegiatan mengelola kelas.

Menurut M. Entang dan T. Raka Joni (1983:12), masalah pengelolaan kelas dibagi menjadi dua kategori masalah, yaitu masalah individual dan masalah kelompok. Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru akan tepat jika guru tersebut dapat mengidentifikasi masalah dengan tepat dan dapat menentukan strategi penanggulangan yang tepat pula. Untuk melakukan pengelolaan kelas yang efektif, diperlikan kehati-hatian dalam mengidentifikasi suatu masalah, apakah maslah itu termasuk individual atau kelompok. Kekurang hati-hatian guru dalam memahami suatu masalah dapat menyebabkan kekeliruan dalam menentukan jenis masalah yang muncul
1.    Masalah Individual
Maslah individual adalah masalah pengelolaan kelas yang sumber penyebabnya adalah individual anak. Masalah individu akan muncul karena dalam setiap individu ada kebutuhan untuk diterima dalam kelompok dan ingin mencapai harga diri. Ketika kebutuhan ini tidak dapat terpenuhi melalui cara-cara yang wajar maka individu tersebut akan berusaha mendapatkannya dengan cara-cara yang tidak baik. Rodolf Dreikurs dan Cassel yang dikutip oleh M. Entang dan T. Raka Joni mengelompokannya menjadi empat, yaitu:
·      Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain ( attention getting behaviors).
·      Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power seeking behaviors).
·       Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors).
·      Peragaan ketidakmampuan (passive behaviors).
Sebagai penduga Dreikurs dan Paerl Cassel menyarankan penyikapan sebagai berikut:
• Apabila seorang guru merasa terganggu oleh perbuatan siswa, maka kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap meminta perhatian.
• Apabila guru merasa dikalahkan atau terancam oleh perbuatan siswa, maka kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap ingin menunjukkan kekuatan.
• Apabila guru merasa tersinggung oleh perbuatan siswa, kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap ingin balas dendam.
• Apabila guru merasa benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa lagi dalam menghadapi ulah siswa, maka besar kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap ingin menunjukan ketidakmampuan.


Dari keempat cara atau tindakan yang dilakukan oleh individu tersebut mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah laku yang sering nampak pada anak usia sekolah (Maman Rahman:1998), yaitu:
• Pola akatif konstruktif: pola tingkah laku yang ekstrim, ambisius untuk menjadi super star di kelasnya dan mempunyai daya usaha untuk membantu guru dengan penuh vitalitas dan sepenuh hati.
• Pola aktif destruktif: pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk membuat banyolan, suka marah, kasar, dan memberontak.
• Pola pasif konstruktif: pola yang menunjuk kepada satu bentuk tingkah laku yang lamban dengan maksud supaya dibantu dan mengharapkan perhatian.
• Pola pasif destruktif: pola tingkah laku yang menunjuk kemalasan dan keras kepala.

2.    Masalah Kelompok
Masalah kelompok adalah masalah pengelolaan kelas yang sumber penyebabnya adalah kelompok. Menurut Lois V. Jhonson dan Mary A. Bany mengemukakan tujuh kategori masalah elompok dalam pengelolaan kelas, yaitu:
·      Kelas kurang kohesif.
·      Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya.
·      Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakati sebelumnya.
·      Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.
·      Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
·      Semangat kerja rendah.
·      Kelas kurang menyesuaikan diri dengan keadaan baru.

Kelas yang kurang kohesif ditandai dengan lemahnya hu bungan interpersonal di dalam kelas. Hal ini dapat disebabkan karena perbedaan jenis kelamin, suku dan tingkat sosial ekonomi. Sering terlihat adanya permusuhan antara sekelompok anak perempuan dan sekelompok anak laki-laki. Lemahnya hubungan ini terlihat pula karena adanya perbedaan suku, kota asal, kampung, atau tempat tinggal. Di dalam kelas sekelompok anak ini bisa menampakkan hubungan yang sangat jarak dan tidak akrab serta terkadang menimbulkan pertentangan di dalam kelas.
Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang siswa juga dapat menimbulkan masalah dalam kelas, misalnya dengan menertawakan, menghina secara bersama-sama yang menyebabkan kelas menjadi ribut dan tidak kondisif untuk belajar. Biasanya anak yang ditertawakan adalah anak yang pemalu, cengeng, suaranya sumbang kalau bernyanyi, dan berpenampilan jelek.
Dari dua macam masalah pengelolaan kelas tersebut, maka memerlukan penangan yang berbeda. Diagnosis yang keliru akan menimbulkan tindakan korektif yang keliru pula.


Usaha Pencegahan Masalah Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas merupakan kegiatan guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung efektif. Tindakan tersebut dapat berupa tindakan pencegahan (preventif) dan tindakan korektif. Tindakan korektif terbagi menjadi dua, yaitu dimensi tindakan dan tindakan penyembuhan (kuratif).

Usaha yang bersifat pencegahan (preventif)
Adalah tindakan yang dilakukan sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang yang menggaggu kondisi optimal berlangsungnya pembelajaran. Keberhasilan dalam tindakan pencegahan merupakan salah satu indikator keberhasilan manajemen kelas. Konsekuansinya guru harus mampu memanaj kelas secara efektif dan efisien dalam jangak pendek amupun jangka panjang. Menurut Maman Rahman:1998, langkah pencegahannya adalh sebagai berikut:
• Peningkatan kesadaran diri sebagai guru
Hal ini merupakan langkah yang strategis dan mendasar. Karena dengan dimilikinya kesadaran ini akan meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang merupakan modal besar bagi guru dalam melaksanakan tugasnya. Implikasinya akan tampak pada sikap guru yang demokratis, stabil, harmonis dan berwibawa. Penampakan hali seperti ini akan menimbulkan reaksi positif dari peserta didik.
• Peningkatan kesadaran diri peserta didik
Interaksi positif akan terjalin jika kesadarn guru dan kesadaran peserta didik sudah tercipta. Kurangnya kesadaran peserta didik akan memicu tindakan yang mengganggu kondisi optimal kegiatan pembelajaran.
Untuk meningkatkan kesadaran peserta didik, hal yang harus dilakukan adalah memberitahukan akan hak dan kewajibannya sebagai peserta didik, memperhatikan kebutuhan, keinginan dan dorongan para peserta didik, menciptakan suasan saling pengertian, saling menghormati dan rasa keterbukaan antara guru dan peserta didik.
• Sikap polos dan tulus dari guru
Seorang guru hendaknya bersikap polos dan tulus terhadap peserta didiknya. Hal ini agar dalam setiap tindakannya guru tidak terkesan berpura-pura. Sikap polos dan tulus ini sangat membantu dalam mengelola kelas. Guru dan kepribadiannya akan sangat mempengaruhi lingkungan belajar, karena tingkah laku, cara menyikapi dan tindakan guru merupakan stimulus yang akan direspon oleh peserta didik.
• Mengenal dan menemukan alternatif pengelolaan
Langkah-langkah yang harus ditempuh antara lain, melakukan identifikasi terhadap berbagai penyimpangan tingkah laku peserta didik baik secara individual atau kelompok, mengenal berbagai pendekatan dalam manajemen kelas, dan mempelajari pengalaman guru-guru lainnya yang gagal atau berhasil sehingga dirinya memiliki alternatif yang bervariasi dalam menangani berabagi manajemen kelas.

• Menciptakan kontrak sosial
Penciptaan kontrak sosial erat hubungannya dengan “standar tingkah laku” yang diharapkan dapat memberi gambaran mengenai fasilitas beserta keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan peserta didik. Hal ini mengingat norma atau nilai yang ada datang nya dari atas dan bersifat satu pihak dan memungkinkan timbulnya kecendrungan untuk dilanggar. Untuk itu, diperlukannya adanya pengelolaan kelas yang perumusannya berupa tata tertib yang dibicarakan bersama peserta didik dan kemudian disetujui oleh guru dan peserta didik itu sendiri. Jika siswa tidak ikut serta dilibatkan dalam pembuatan kontra sosial atau tata tertib tersebut dikhawatirkan siswa akan bertindak sekehendak siswa karena meras tidak ikut membuat peratuaran yang ada.

Usaha Yang Bersifat Penyembuhan (Kuratif)

1. Mengidentifikasi masalah
Pada langkah ini guru mengenal atau mengetahui masalh-masalah pengelolaan kelas yang timbul dalam kelas. Bedasar masalah tersebut guru dapat mengidentifikasi jenis penyimpangan sekaligus mengetahui latar belakang yang membuat peserta didik melakukan penyimpangan tersebut.
2. Menganalisis masalah
Disini guru menganalisi penyimpangan peserta didik dan menyimpulkan latar belakang dan sumber-sumber dari penyimpangan itu. Selanjutnya menentukan alternatif-alternatif penanggulangannya.
3. Menilai alternatif-alternatif pemecahan
Pada langkah ini guru menilai dan memilih alternatif pemecahan masalah yang dianggap tepat dalam menanggulangi masalah.
4. Mendapatkan balikan
Tahap yang terakhir guru bertindak sebagai monitoring, dengan tujuan untuk menilai keampuha pelaksanaan dari alternatif pemecahan yang dipilih untuk mencapai sasaran yang sesuai dengan yang direncanakan. Hal ini dapat ditempuh dengan cara melakukan sharing dengan peserta didik.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar