BAB
II
TEKNIK-TEKNIK
MEMAHAMI
PERKEMBANGAN
MURID
Keberhasilan proses pembelajaran di sekolah ditentukan
oleh ketepatan pemahaman guru terhadap perkembangan murid. Pemahaman
perkembangan murid ini menjadi dasar bagi pengembangan strategi dan proses pembelajaran
yang membantu mmurid mengembangkan perilaku-perilakunnya.
Perkembangan murid di Sekolah Dasar meliputi aspek-aspek
fisik, kecerdasan, emosi, sosial, dan kepribadian. Setiap murid memiliki
karakteristik dan perilaku yang relatif berbeda. Keragaman perilaku ini
mengandung implikasi akan perlunya data dan pemahaman yang memadai terhadap
murid.
Untuk itu guru di SD perlu memiliki pengetahuan dan
keterampilan tentang jenis-jenis data yang
perlu dikumpulkan, sumber untuk memperoleh data, cara dan prosedur
mendapatkan data dan keterampilan menyusun alat pengumpul data serta
penggunaannya.
Teknik memahami perkembangan murid akan berentang dari
mulai teknik yang sepenuhnya bergantung kepada pengamatan guru yang bersifat
terbuka dan fleksibel sampai kepada teknik yang terstruktur dengan menggunakan
alat ukur tertentu secara ketat.
Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan bimbingan
adalah memahami murid secara keseluruhan, baik masalah yang dihadapinya maupun
latar belakang pribadinya. Dengan data
yang lengkap pembimbing akan dapat memberikan layanan bimbingan kepada murid
secara tepat dan terarah. Untuk memperoleh data murid secara lengkap,
diperlukan teknik tertentu.
Teknik-teknik untuk mrngumpulkan data murid tersebut pada
dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua katagori besar, yaitu teknik tes dan
teknik non-tes.
A.
Teknik tes
Teknik tes atau yang
biasa disebut sistem testing merupakan usaha pemahaman murid dengan menggunakan
alat-alat yang bersifat mengukur (mentes).
Penggunaan teknik tes
(khususnya tesprestasi belajar) bagi guru di sekolah bertujuan untuk :
Tes
untuk keperluan bimbingan biasanya dikelompokkan ke dalam empat kelompok tes,
yaitu tes kecerdasan, tes bakat, tes kepribadian, dan tes hasil belajar.
a. Tes
Kecerdasan
Kecerdasan merupakan
kemampuan berpikir abstrak. Selain itu, kecerdasan juga dapat diartiakan
sebagai kemampuan individu untuk berprilaku yang jelas tujuannya, berfikir
rasional, dan berhubungan dengan lingkungannya secara efektif (Shertzer &
Stone, 1971 : 239). Jadi, tes kecerdasan adalah prosedur yang sistematis dengan
menggunakan instrumen untuk mengetahui kemampuan umum individu terutama
menyangkut kemampuan berpikirnya. Melalui tes ini, akan diketahui murod yang
jenius, sangat cerdas, cerdas, rata-rata, dan di bawah normal.
Untuk mengatahui
kecenderungan tingkat kecerdasan murid
digunakan Tes Benet – Simon (verbal test) yang dipersiapkan untuk anak
berusia mulai 3 tahun sampai 15 tahun.tes Benet – Simon memperhitungkan 2 hal
berikut :
1. Umur
kronologis (“cronological age” disingkat C.A), yaitu umur seseorang sebagaimana
yang ditunjukkan dengan hari kelahirannya.
2. Umur
mental (“mental age” disingkat M.A), yaitu umur kecerdasan sebagaimana yang
ditunjukkan dengan tes kemampuan akademik.
Dengan demikian tingkat
intelegensi ditunjukkan dengan perbandingan kecerdasan (Intelliegence Quotient
yang biasa disingkat I.Q). perbandingan kecerdasan adalah umur mental dibagi
dengan umur kronologis (IQ = MA : CA).
Selain teknis tes di
atas, ada juga tes kecerdasan lainnya, yaitu Test Progressive Metrices yang
merupakan alat yang mengukur tes intelegensi secara non-verbal yang diberikan
kepada anak yang berusia diantara 9-15 tahun (Rich & Anderson, dalam Anne
Anastasi, 1988).
b. Tes
Prestasi Belajar (Achievement Tests)
Tes prestasi belajar
disusun untuk mengukur hasil pembelajaran atau kemajuan belajar murid. Tes ini
meliputi :
1. Tes
diagonostik, dirancang agar guru dapat menentukan letak kesulitan murid.
2. Tes
prestasi belajar kelompok yang baku
3. Tes
prestasi belajar yang disusun oleh para guru
c. Tes
Bakat
Bakat merupakan
kemampuan khhusus individu yang dapat berkembang melalui belajar atau latihan.
Untuk mengetahui bakat individu, telah dikembangkan beberapa macam tes, yaitu :
1. Rekonik,
tes ini mengukur fungsi motorik, persepsi, dan berpikir mekanis.
2. Tes
Bakat Musik, tes ini berfungsi mengukur kemampuan individu dalam aspek-aspek
suara, nada ritme, warna bunyi dan memori.
3. Tes
Bakat Artistik, tes ini mengukur kemampuan menggambar, melukis, dan merupa.
4. Tes
Bakat Klerikal (perkantoran), tes ini mengukur kemampuan kecepatan dan
ketelitian.
5. Tes
Bakat yang Multifaktor, tes ini mengukur berbagai kemampuan khusus, yang telah
lama digunakan adalah DAT (Differential Artitude Test).
Tes ini mengukur 8 kemampuan khusus,
yaitu :
a) Berpikir
verbal, yang mengungkapkan kemampuan nalar yang dinyatakan secara verbal
b) Kemampuan
bilangan, yang mengungkap kemampuan berpikir dengan menggunakan angka-angka
c) Barpikir
abstrak, yang mengungkap kemampuan nalar yang dinyatakan denngan menggunakan
berbagai bentuk diagram yang bersifat nonverbal atau tanpa angka-angka
d) Hubungan
ruang, visualisasi, dan persepsi, yang mengungkap kemampuan untuk membayangakan
dan membentuk gambar-gambar dari objek-objek dengan hanya melihat gambar di
atas kertas yang rata
e) Kecepatan
dan ketelitian, yang mengungkap kemampuan ketelitian dan percepatan seseorang
dalam membandingkan dan memperhatikan daftar tertulis, seperti nama-nama atau
angka-angka
f) Berpikir
mekanik, yang mengungkap kemampuan dan pemahaman mengenai hukum-hukum yang
mendasari alat-alat, mesin, dan gerakannya
g) Penggunaan
bahasa-pengucapan, yang mengungkap kemampuan mengeja kata-kata umum
h) Penggunaan
bahasa-menyusun kalimat, yang mengungkap kemampuan pemakaian kata-kata dalam
kalimat, seperti tanda baca
B.
Teknik Non-tes
Teknik
non-tes merupakan prosedur pengumpulan data yang dirancang untuk memahami pribadi
murid yang pada ummumnya bersifat kualitatif. Teknik iini tidak mengunakan
alat-alat yang bersifat mengukur, tetapi hanya menggunakan alat yang bersifat
menghimpun atau mendeskripsikan saja.
Teknik
ini terdiri atas beberapa macam jenis, seperti observasi, angket, wawancara,
sosiometri, dan studi dokumentasi.
a. Observasi
(pengamatan)
Observasi atau
pengamatan merupakan cara untuk mengamati suatu keadaan atau kegiatan (tingakah
laku). Alat yang paling pokok dalam tekn ik ini adalah panca indera, terutama
penglihatan.
Teknik observasi dapat
dikelompokkan ke dalam beberapa jenis, yaitu :
1. Observasi
sehari-hari, yaitu yang tidak direncanakan dengan seksama karena pengamatannya
dikerjakan sambil mengerjakan tugas rutin, observasi ini juga tidak memiliki
pedoman, dan dilaksanakan secara insendal terhadap tingkah laku murid yang
menyimpang atau menonjol.
2. Observasi
sistematis, yaitu yang direncanakan secara seksama, serta memiliki pedoman.
3. Observasi
partisipatif, yaituy observasi dimana observer berada dalam situasi yang sedang
diamati.
4. Observasi
nonpartisipatif, dalam observasi ini observer tidak turut dalam situasi
kegiatan siswa.
Kelebihan
Observasi
1. Observasi
merupakan teknik yang langsung dapat dipergunakan untuk memperhatikan berbagai
gejala tingkah laku murid..
2. Observasi
memungkinkan pencatatan yang serempak dengan kejadian yang penting :
·
Observasi baik sekali untuk digunakan
sebagai teknik untuk melengkapi data yang diperoleh dengan teknik lain.
·
Dalam observasi pengumpul data tidak
perlu mempergunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang ditelaah
Kelamahan
Observasi
1. Banyak
hal yang tidak dapat dicapai dengan observasi langsung.
2. Apabila
objek observasi mengetahui bahwa ia sedang diamati, ia cenderung melakukan
kagiatannya dibuat-buat.
3. Timbulnya
suatu kejadian yang hendak diobservasi tidak selalu dapat diramalkan sebelumnya
sehingga pengamat sukar untuk menentukan waktu yang tepat untuk melakukan
observasi.
4. Observasi
banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol.
Para
guru di sekolah dapat menggunakan teknnik observasi dengan berbagai tujuan,
seperti :
ü Untuk
mengetahui aktifitas para murid pada saat proses belajar mengajar berlangsung.
ü Untuk
mengetahui perhatian murid terhadap pelajaran yang diberikan.
b. Catatan
Anekdot
Catatan anekdot
merupakan catatn otentik hasil observasi yang menggambarkan tingkah laku murid
atau peristiwa dalam situasi yang khusus. Catatan anekdot ini bisa menyangkut
tingkah laku seorang murid ataupun kelompok.
Dengan menggunakan
catatan anekdot, guru dapat
ü Memperoleh
pemahaman yang lebih tepat tentang perkembangan murid.
ü Memperoleh
pemahaman tentang sebab-sebab dari gejala tingkah laku murid.
ü Memudahkan
dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan murid.
Catatan
anekdot memiliki beberapa syarat sebagai berikut :
1. Objektif
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk
mempertahankan keobjektifitasan adalah :
a) catatan
dibuat sendiri oleh guru
b) pencatatan
dilakukan segera setelah suatu peristiwa terjadi
c) deskripsi
dari suatu peristiwa dipisahkan dari tafsiran pencatatan sendiri
2. Deskriptif
Catatan tentang suatu peristiwa mengenai
murid hendaknya lengkap disertai dengan latar belakang, percakapan dicatat
secara langsung, dan kejadian-kejadian dicatat dengan tersusun sesuai dengan
kejadiannya.
3. Selektif
Situasi yang dicatat adalah situasi yang
relevan dengan tujuan dan masalah yang sedang menjadi perhatian guru sesuai
dengan situasi dan keadaan murid.
Dengan catatan anekdot,
guru akan lebih memahami tentang sikap, kebiasaan atau perilaku murid sehingga
memudahkan untuk memberikan bimbingan kepada murid.
c. Wawancara
Wawancara merupakan
teknik mengumpulkan informasi melalui komunikasi langsung denngan responden
(orang yang diminta informasi).
Wawancara sebagai
teknik pengumpul data mempunyai kelebihan sebagai berikut :
1. Teknik
yang paling tepat untuk mengungkapkan keadaan pribadi murid
2. Dapat
dilakukan terhadap setiap ungkapan umur
3. Dapat
diselenggarakan serempak dengan observasi
4. Digunakan
untuk pelengkap data yang dikumpulkan dengan teknik lain
Selain
mempunyai beberapa kelebihan, teknik wawancara juga memiliki
kelemahan-kelemahan, diantaranya :
1. Tidak
efisien
2. Sangat
tergantung kepada kesediaan kedua belah pihak
3. Menuntut
penguasaan bahasa dari pihak pewawancara
d. Angket
Angket (kuesioner)
merupakan alat pengumpul data melalui komunikasi tidak langsung, yaitu melalui
tulisan. Angket ini berisi daftar pertanyaan yang bertujuan untuk mrngumpulkan
keterangan berbagai hal yang berkaitan dengan responden.
Petunjuk untuk menyusun
angket :
a) Gunakan
kata-kata yang tidak mempunyai arti lengkap
b) Susun
kalimat yang sederhana tetapi lengkap
c) Hindari
pemakain kata-kata yang sulit dipahami
d) Hindarkan
pertanyaan-pertanyaan yang tidak baku
e) Pertanyaan
jangan bersifat memaksa untuk dijawab
f) Hindarkan
kata-kata yang bersifat negatif dan menyinggung perasaan responden
e. Autobiografi
(Riwayat atau Karangan Pribadi)
Karangan pribadi
merupakan ungkapan pribadi murid tentang pengalaman hidupnya, cita-cita,
keadaan keluarga, dan sebagainya. Penggunaan autobiografi bagi guru bertujuan
untuk mengetahui keadaan murid yang berhubungan dengan minat, cita-cita, dan
sikapnya terhadap keluarga, guru, atau sekolah serta dalam pengalaman hidupnya.
Dalam pembuatannya,
karangan pribadi dibagi ke dalam dua jenis, yaitu :
1. Terstruktur : karangan pribadi yang disusun
berdasarkan tema yang telah ditentukan
2. Tidak
terstruktur : karangan pribadi secara
bebas
f. Sosiometri
Teknik ini bertujuan untuk memperoleh
informasi dengan interaksi sosial di antara murid. Melalui teknik ini, guru
dapat :
1. Murid
yang populer
2. Murid
yang terisolir
3. Klik
(kelompok kecil)
Bagi guru, sosiometri
digunakan sebagai alat untuk meneliti struktur sosial dari suatu kelompok
individu terhadap relasi sosial dan status sosial dari masin-masing anggota
kelompok yang bersangkutan. Selain itu sosiometri juga dapat digunakan untuk :
a) Memperbaiki
hubungan insani diantara anggota kelompok tertentu
b) Menentukan
kelompok kerja
c) Meneliti
kemampuan memimpin seorang individu dalam kelompok tertentu untuk suatu
kegiatan tertentu
g. Studi
Kasus
Studi kasus merupakan
teknik mempelajari perkembangan seorang murid secara nmenyeluruh dan mendalam
serta mengungkap seluruh aspek pribadi murid yang datanya diperoleh dari
berbagai pihak.
Penggunaan teknik ini
bertujuan untuk memahami pribadi murid yang lebih baik dan membantunya agar
murid dapat mengembangkan dirinya secara optimal.
Dalam melaksanakan
studi kasus ini, dapat ditempih langkah-langkah sebagai berikut :
1) Menemukan
Murid yang Bermasalah
2) Memperoleh
Data
3) Menganalisis
Data
4) Memberikan
Layanan Bantuan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar